Rabu, 31 Juli 2019

Rayuan Pulau Politik Untuk Bu Risma

Headline berita politik baru-baru ini banyak menyita perhatian masyarakat. Mulai dari KPAI akan mencabut beasiswa PB Djarum hingga berita bahwa Kota Surabaya kedatangan tamu dari Jakarta membawa permasalahan sampah. Hal ini menarik karena bukan tanpa sebab Pemprov DKI Jakarta melakukan kunjungan yang diwakili oleh Bestari Barus dan Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Provinsi DKI Jakarta.
Tamu datang bukan tanpa tujuan, sebab ada hal-hal yang ingin disampaikan kepada tuan rumah. Entah berupa internal rumah tangga atau permasalahan sekitar tempat tinggal tamu. Dan benar adanya bahwa tim BAPEMPERDA Provinsi DKI Jakarta bertamu dengan membawa setumpukkan masalah. Masalah apa sebenarnya hingga pemkot ibukota repot-repot datang jauh-jauh ke Surabaya?.
Kita tahu bahwa Jakarta adalah kota Megapolitan, kota dengan segudang permasalahan dan setumpuk PR yang harus diselesaikan. Tim BAPEMPERDA yang kali ini di wakili oleh Bestari Barus mulai menyampaikan keluh kesah tentang penanganan sampah yang ada di Jakarta. Tim BEPEMPERDA  memaparkan bahwa Jakarta dengan total anggaran 3,7 Triliun untuk penanganan sampah namun dalam pengaplikasiannya dirasa belum maksimal.
Melihat total anggaran yang disampaikan oleh Tim tersebut Risma Tri yang juga Walikota terpilih Kota Surabaya tercengang. Bagaimana tidak, hal ini berbanding 180 derajat yang ada di Kota Surabaya. Risma mengatakan Kota Surabaya hanya memiliki total anggaran 30 Miliar untuk penanganan sampah yang ada di Kota Surabaya. Risma menekankan kepada Pemprov DKI Jakarta agar lebih efisien dengan anggaran tersebut. Saran pertama dari Risma adalah mengenai percepatan pembangunan TPA Bantargebang yang statusnya akan di tutup 2021 dan diperkirakan selesai 2020.
Tentu Risma mempertimbangkan hal tersebut bukan tanpa alasan, yakni pertama untuk menekan angka pembuangan sampah perhari di Jakarta yang mencapai angka 7.500 ton, alasan kedua adalah alasan kesehatan, karena dengan hadirnya sampah maka titik-titik rawan penyakit terhadap anak lebih dekat.
Dengan asumsi diatas setidaknya pemprov DKI Jakarta sudah mengantongi beberapa solusi untuk penanganan yang ada di Jakarta. Namun, adakah kita berpikir bahwa ada keperluan-keperluan mendasar yang dibawa Tim BAPEMPERDA melalui Bestari Barus dalam kesempatan kali ini?.
Jawabannya ada pada pemaparan terakhir oleh Bestari Barus dengan menawarkan Risma maju dalam waktu dekat ini menjadi Walikota Jakarta. Secara tersirat ia menjelaskan bahwa orang secerdas Risma harusnya sudah naik kelas. Ia menyadari bahwa Risma takkan mungkin maju lagi dalam perhelatan politik di Kota Surabaya karena Risma telah menjabat dua periode.
Manuver politik yang dilakukan oleh beberapa Tim BAPEMPERDA seperti Bestari Barus kali ini guna mendapatkan tujuan yang ada tentunya juga harus melewati Negosiasi & Lobbying terlebih dahulu jika mereka ingin mengusung Risma sebagai Calon orang nomor satu di Jakarta.
Masyarakat tentunya sudah mulai menebak arah dan tujuan mereka datang jauh-jauh ke Kota Surabaya seperti apa, namun beberapa lapisan masyarakat yang sudah jatuh hati kepada cara kerja Risma sangat menyayangkan ketika Risma akan hijrah ke Jakarta. Masyarakat khususnya Surabaya sudah menanamkan kepercayaan melalui Risma untuk tetap tinggal di Surabaya.
Namun politik tetaplah politik. Tak ada yang benar-benar bisa digenggam. Jika Risma akan tetap maju dan siap membangun Jakarta lebih baik, Kenapa tidak?

Senin, 29 Juli 2019

Dik Darsih, Riwayatmu kini

Terik matahari menyengat di jam menjelang siang. Hanya aula yang terlihat tak di temani oleh sinar panas itu. Serta rerumunan siswa-siswi yang bergerak kesana kemari membawa tas ransel berisi buku-buku pinjaman sekolah yang kisaran beratnya tak lebih dari dua kilogram.
Bagiku momen-momen semacam itu pernah kulewati hampir lima belas tahun silam. Memori kekonyolan dengan kawan sejawat yang baru kukenal, rasa canggung melontarkan kata pertama sebagai tanda jadi perkenalan pun tak terucap.
Terlihat dari kejauhan perempuan bertubuh mungil dengan jilbab model syar'i kekinian lengkap dengan seragam khas seorang pengajar. Ia berada di depan aula dengan menyampirkan pengeras suara di samping bahu kirinya.
Bagai kamera dengan lensa bokeh auto fokus'ku terbelalak menuju depan aula. Perempuan itu tampak tak asing. Sorot matanya pernah kulihat sebelumnya. Lentik jari saat mengarahkan siswa-siswi berbaris pun seakan aku pernah merekamnya. Suara melengking fals dengan intonasi yang seperti itu juga familiar  di gendang telingaku.
Aku berusaha untuk tidak membenarkan apa yang ada di dalam benakku. Bukan dia yaa bukan. Arus pembenaran seakan memacuku untuk terus melaju dan mengiyakan bahwa perempuan berwajah bulat lengkap dengan pipi yang sedikit lebih gemuk atau chubby adalah Darsih. Perempuan cerdas yang sewaktu sekolah dapat mudah melafal rumus diluar kepala serta goresan tanganya yang lihai saat menyeselaikan puluhan soal fisika dan tentunya pelajaran yang paling dibenci oleh seantero Sekolah dasar (baca:matematika).
Asih adalah panggilannya, alasan klasiknya sih karena tak ingin terlihat kampung dan kuno. Pribadi yang cerewet serta humble atau mudah adaptasi dengan lingkungan sekitar membuatnya seringkali mudah dalam bergaul maupun mencari teman. Gaya berbicara ceriwis ala presenter gosip jadi khasnya ketika masih di bangku sekolah. Tak hanya itu ia juga aktif dalam kegiatan sekolah.
Bajigurr...! Bisa-bisanya aku termenung beberapa menit karena melihatnya dan mengira ia seperti Darsih. Tujuanku kembali ke sekolah ini tak lain dan tak bukan untuk menemui Pak Waluyo. Guru yang nyentrik pada jamanku sekolah karena Pak Waluyo'lah satu-satunya guru yang senang akan travelling, fotografi, begadang lovers dan touring addict . Sosok sedikit kekar dengan brengos tipis ala-ala koboi jadi khas Pak Waluyo. Rambut setengah gundul dan mengkilat menjadikannya salah satu guru yang dicap mirip seperti komedian Indro DKI. 
Urusanku dengan Pak Waluyo kali ini ingin mengajaknya untuk ngopi bareng kawan-kawan alumni SD Bulakbanteng yang kebetulan akan membicarakan soal reuni akbar lintas angkatan. Rasanya sudah lama sekali aku tak melihat tampang-tampang berandal kawan-kawan sejawatku dulu. Kira-kira bagaimana keaadannya kini aku benar-benar rindu akan kebodohan mereka semua. Aku rindu ketika kita saling cemooh soal rusaknya dunia. Saling hujat soal taruhan yang ngeblong karena kita kompak kalah taruhan dalam salah satu judi balap keong. Dimana mereka sekarang? Sukses'kah mereka sekarang? Harapanku hanya satu mereka tak lupa akan kebersamaan kita dulu.
Tepat di depan ruangan BK sebelah timur kelasku dulu, aku duduk termenung sambil bernostalgia dengan mengingat-ingat bagaimana cerianya aku dulu. Catatan rapot merah, hukuman hormat bendera siang hari, hingga skorsing karena tawuran dengan SD sebelah masih terekam rapi diingatanku.
Ohh Darsih... Andai dulu kamu tak menolakku karena ingin fokus masuk SMP favorit. Mungkin aku tak semenderita kini. Lima belas tahun silam semenjak kamu menolakku didepan pedagang pentol bakar kala itu menjadikanku semangat lagi untuk menghadapi tantangan hidup.
Siang itu sembari menunggu Pak Waluyo selesai mengajar, badanku coba kurebah sedikit lebih santai pada tempat duduk di ruang tunggu tepat di depan ruang BK. Begitu kagetnya aku ketika ada seorang perempuan yang menepuk pundakku dari samping.

"Mas Timbul? Mas ngapain disini?". Dengan sedikit heran perempuan itu bertanya padaku.

Duh gusti.. Perempuan itu ternyata benar-benar seperti apa yang ada dibenakku, sama persis tak berubah. Yaa dia adalah Darsih. Perempuan yang sedari sekolah dasar kukagumi. Jantungku mulai berdetak kencang, keringat bercucuran deras, grogi, malu campur aduk menjadi satu. Tak pernah aku merasa semalu dan segemetar ini dalam hidupku. Yaa baru kali ini.

"Mas... Mas Timbul.."

Mendengar suaranya pun aku sudah merasa lega. Aku menikmati dan menghayati suaramu Dik Darsih.

"Mas.. Mas Timbul..."
"Mas Timbul.."
"Timbul.. Mbul.."

Suara itu lambat laun makin mengeras. Duh gusti.. aku benar-benar rindu suaramu Dik.

"Timbul... tangi Mbul..!!"
"Darsah-darsih.. neng kene ora ono jenenge Darsih..!"
"Tangi mbul wes awan, penggaweanmu tura-turu tok...!! Ayoo tangii...! Gek ndang golek kerjo kono!!"

Bajilakk...! ternyata dik Darsih hanya sebatas mimpi. Suara melengking panjang itu ternyata suara ibuku.

***