Sabtu, 17 Agustus 2019

"Mbangkong itu sifat PKI, HTI dan ISIS"

Dari kamar terdengar ada sedikit orasi pada pengeras suara. Suaranya tak asing bahkan aku sering mendengar suara itu pada saat arisan bapak-bapak. Aku yakin suara itu adalah suara Pak RT. Suara melengking keras dengan nada ajakan kepada warga agar segera berkumpul karena jalan sehat pagi hari ini akan segera dimulai.
Tak kuhiraukan suara itu karena suara bantal dan gulingku menggema lebih keras daripada suara Pak RT. Gaya gravitasi seakan menarikku lebih keras dalam dekapan sprei kasur yang sudah agak sedikit mbulak. Mata merem mungkin sudah menjadi hobbyku sejak tak lagi bekerja sebagai buruh di perusahaan borjuis kapitalis sebelah timur desa. Aku memilih menjadi bangsawan (bangsane tangi awan) untuk menjadi jalan ninjaku.
Tetiba gemuruh suara memekik tajam dari luar pintu kamar serta gedoran pintu yang tak lagi bisa terhindari pun terjadi. Kupikir pagi ini ada gempa berkekuatan lebih kurang tujuh skala richter.
"Tangi...! Wes awan...!" Sambil menggedor pintu kamar.
Ohh tuhan ternyata itu suara ibuk.
"Mbangkong kok terus..! Ndang adus. Terus melu jalan sehat. Pak RT wes obrak-obrak liwat speaker mushola!" Sahut ibuk.
Mataku tiba-tiba memberat, mulutku menutup tak mau mengucap apapun. Batinku berkata kutukan apalagi pagi ini tuhan.
"Hmmm...hmmmmm.." sahutku.
"Ham..hem..ham..hem.. Malam kerjanya begadang, ngopa-ngopi, Shubuh kesiangan. Punya anak kok ndak bisa diandalkan sama sekali" tandas ibuk.
"He'emm...." sahutku kembali enteng.
"Kamu ini hambok yaa ngehargai sedikit gitu lho perjuangan pahlawan dulu. Jaman sudah merdeka, kamu disuruh menyemarakkan hari kemerdekaan saja ndak mau. Mau jadi apa kamu? Mbangkong kok terus. Kamu ini ndak punya rasa Nasionalisme blas..!" Timpal ibuk kembali.
"Buk.. Aku ini pengen merdeka buk.. Masak ndak boleh aku memerdekakan diriku sendiri? Jangan dijajah terus dong." Sahutku santuy.
"Ohh... ini hasilnya kamu kuliah? Bukannya  pinter ini malah ngejawab mulu. Kamu tau  Aceh, Maluku, Papua dulu dan sampai sekarang ya pengen merdeka. Sudah dikasih tau kalau kita itu Indonesia ehh mereka malah ngelawan yaa seperti kamu sekarang ini..!" Jawab ibuk geram.
"Tapi buk.. Aceh, Maluku, Papua dan aku juga berhak merdeka kan? Tanpa harus merasa dijajah melulu?" Jawabku mulai agak melek.
"Ohh... jadi kamu merasa Aceh, Maluku, Papua itu dijajah oleh Indonesia sendiri yaa? Ohh kamu merasa dijajah ibuk? Ibuk dari awal sudah menduga kamu ini terpapar gerakan PKI pasti..!" Tanya ibuk dengan suara memekik.
"Astaghfirullahh buk.. istighfar buk.." jawabku kaget.
"Ohh.. atau kamu terpapar HTI yang pengenya Khilafah ndak pengen Pancasila? Atau ibuk tau kamu jangan-jangan sudah kena dampak ISIS?. Astaghfirullah Pak.. anakmu sekarang jadi PKI yang ngikut HTI dan ikut-ikutan ISIS..!!" Ibuk mulai geram melihatku tak beranjak dari kasur.
"Buk...." jawabku singkat.
"Ndak usah bak buk bak buk lagi. Ibuk sudah curiga semenjak kamu ngikut organisasi di kampus yang ndak jelas itu kamu sukanya sekarang melawan ibuk saja. Ibuk tau buku 'Palu Arit diladang tebu' & 'Nasionalisme Ganda Orang Papua' yang kamu sembunyikan  di balik kasur itu. Halah ngaku saja. Sekarang kalau ndak mau jadi anak durhaka dan punya Nasionalisme tinggi untuk Indonesia, cepat mandi dan ikut jalan sehat di balai desa sekarang juga..!" Tandas ibuk garang.
Argumen dan narasi ibuk tentang Nasionalisme akhirnya membawaku lepas landas dari kasur kamar. Entah sumber darimana sehingga ibuk dapat mengetahui sejarah Aceh, Maluku dan Papua. Mungkin itu versi ibuk yang ndak mau Indonesia dipecah belah. Ibuk hanya ingin Indonesia yaa Indonesia. Kita ini bangsa yang pernah dijajah bukan bangsa penjajah.
Menurut ibuk sejarah kelam dulu sudah jadi pil pahit bagi bangsa Indonesia. Sudah selayaknya ibuk sebagai benteng pertahanan terakhir dirumah untuk menjaga marwah Nasionalisme tertinggi.
Ibuk pagi ini menjelma menjadi aparatur negara dan sialnya lagi aku masih tetap tak merdeka dari apapun dan siapapun termasuk ibuk. Huft..

Rabu, 31 Juli 2019

Rayuan Pulau Politik Untuk Bu Risma

Headline berita politik baru-baru ini banyak menyita perhatian masyarakat. Mulai dari KPAI akan mencabut beasiswa PB Djarum hingga berita bahwa Kota Surabaya kedatangan tamu dari Jakarta membawa permasalahan sampah. Hal ini menarik karena bukan tanpa sebab Pemprov DKI Jakarta melakukan kunjungan yang diwakili oleh Bestari Barus dan Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Provinsi DKI Jakarta.
Tamu datang bukan tanpa tujuan, sebab ada hal-hal yang ingin disampaikan kepada tuan rumah. Entah berupa internal rumah tangga atau permasalahan sekitar tempat tinggal tamu. Dan benar adanya bahwa tim BAPEMPERDA Provinsi DKI Jakarta bertamu dengan membawa setumpukkan masalah. Masalah apa sebenarnya hingga pemkot ibukota repot-repot datang jauh-jauh ke Surabaya?.
Kita tahu bahwa Jakarta adalah kota Megapolitan, kota dengan segudang permasalahan dan setumpuk PR yang harus diselesaikan. Tim BAPEMPERDA yang kali ini di wakili oleh Bestari Barus mulai menyampaikan keluh kesah tentang penanganan sampah yang ada di Jakarta. Tim BEPEMPERDA  memaparkan bahwa Jakarta dengan total anggaran 3,7 Triliun untuk penanganan sampah namun dalam pengaplikasiannya dirasa belum maksimal.
Melihat total anggaran yang disampaikan oleh Tim tersebut Risma Tri yang juga Walikota terpilih Kota Surabaya tercengang. Bagaimana tidak, hal ini berbanding 180 derajat yang ada di Kota Surabaya. Risma mengatakan Kota Surabaya hanya memiliki total anggaran 30 Miliar untuk penanganan sampah yang ada di Kota Surabaya. Risma menekankan kepada Pemprov DKI Jakarta agar lebih efisien dengan anggaran tersebut. Saran pertama dari Risma adalah mengenai percepatan pembangunan TPA Bantargebang yang statusnya akan di tutup 2021 dan diperkirakan selesai 2020.
Tentu Risma mempertimbangkan hal tersebut bukan tanpa alasan, yakni pertama untuk menekan angka pembuangan sampah perhari di Jakarta yang mencapai angka 7.500 ton, alasan kedua adalah alasan kesehatan, karena dengan hadirnya sampah maka titik-titik rawan penyakit terhadap anak lebih dekat.
Dengan asumsi diatas setidaknya pemprov DKI Jakarta sudah mengantongi beberapa solusi untuk penanganan yang ada di Jakarta. Namun, adakah kita berpikir bahwa ada keperluan-keperluan mendasar yang dibawa Tim BAPEMPERDA melalui Bestari Barus dalam kesempatan kali ini?.
Jawabannya ada pada pemaparan terakhir oleh Bestari Barus dengan menawarkan Risma maju dalam waktu dekat ini menjadi Walikota Jakarta. Secara tersirat ia menjelaskan bahwa orang secerdas Risma harusnya sudah naik kelas. Ia menyadari bahwa Risma takkan mungkin maju lagi dalam perhelatan politik di Kota Surabaya karena Risma telah menjabat dua periode.
Manuver politik yang dilakukan oleh beberapa Tim BAPEMPERDA seperti Bestari Barus kali ini guna mendapatkan tujuan yang ada tentunya juga harus melewati Negosiasi & Lobbying terlebih dahulu jika mereka ingin mengusung Risma sebagai Calon orang nomor satu di Jakarta.
Masyarakat tentunya sudah mulai menebak arah dan tujuan mereka datang jauh-jauh ke Kota Surabaya seperti apa, namun beberapa lapisan masyarakat yang sudah jatuh hati kepada cara kerja Risma sangat menyayangkan ketika Risma akan hijrah ke Jakarta. Masyarakat khususnya Surabaya sudah menanamkan kepercayaan melalui Risma untuk tetap tinggal di Surabaya.
Namun politik tetaplah politik. Tak ada yang benar-benar bisa digenggam. Jika Risma akan tetap maju dan siap membangun Jakarta lebih baik, Kenapa tidak?

Senin, 29 Juli 2019

Dik Darsih, Riwayatmu kini

Terik matahari menyengat di jam menjelang siang. Hanya aula yang terlihat tak di temani oleh sinar panas itu. Serta rerumunan siswa-siswi yang bergerak kesana kemari membawa tas ransel berisi buku-buku pinjaman sekolah yang kisaran beratnya tak lebih dari dua kilogram.
Bagiku momen-momen semacam itu pernah kulewati hampir lima belas tahun silam. Memori kekonyolan dengan kawan sejawat yang baru kukenal, rasa canggung melontarkan kata pertama sebagai tanda jadi perkenalan pun tak terucap.
Terlihat dari kejauhan perempuan bertubuh mungil dengan jilbab model syar'i kekinian lengkap dengan seragam khas seorang pengajar. Ia berada di depan aula dengan menyampirkan pengeras suara di samping bahu kirinya.
Bagai kamera dengan lensa bokeh auto fokus'ku terbelalak menuju depan aula. Perempuan itu tampak tak asing. Sorot matanya pernah kulihat sebelumnya. Lentik jari saat mengarahkan siswa-siswi berbaris pun seakan aku pernah merekamnya. Suara melengking fals dengan intonasi yang seperti itu juga familiar  di gendang telingaku.
Aku berusaha untuk tidak membenarkan apa yang ada di dalam benakku. Bukan dia yaa bukan. Arus pembenaran seakan memacuku untuk terus melaju dan mengiyakan bahwa perempuan berwajah bulat lengkap dengan pipi yang sedikit lebih gemuk atau chubby adalah Darsih. Perempuan cerdas yang sewaktu sekolah dapat mudah melafal rumus diluar kepala serta goresan tanganya yang lihai saat menyeselaikan puluhan soal fisika dan tentunya pelajaran yang paling dibenci oleh seantero Sekolah dasar (baca:matematika).
Asih adalah panggilannya, alasan klasiknya sih karena tak ingin terlihat kampung dan kuno. Pribadi yang cerewet serta humble atau mudah adaptasi dengan lingkungan sekitar membuatnya seringkali mudah dalam bergaul maupun mencari teman. Gaya berbicara ceriwis ala presenter gosip jadi khasnya ketika masih di bangku sekolah. Tak hanya itu ia juga aktif dalam kegiatan sekolah.
Bajigurr...! Bisa-bisanya aku termenung beberapa menit karena melihatnya dan mengira ia seperti Darsih. Tujuanku kembali ke sekolah ini tak lain dan tak bukan untuk menemui Pak Waluyo. Guru yang nyentrik pada jamanku sekolah karena Pak Waluyo'lah satu-satunya guru yang senang akan travelling, fotografi, begadang lovers dan touring addict . Sosok sedikit kekar dengan brengos tipis ala-ala koboi jadi khas Pak Waluyo. Rambut setengah gundul dan mengkilat menjadikannya salah satu guru yang dicap mirip seperti komedian Indro DKI. 
Urusanku dengan Pak Waluyo kali ini ingin mengajaknya untuk ngopi bareng kawan-kawan alumni SD Bulakbanteng yang kebetulan akan membicarakan soal reuni akbar lintas angkatan. Rasanya sudah lama sekali aku tak melihat tampang-tampang berandal kawan-kawan sejawatku dulu. Kira-kira bagaimana keaadannya kini aku benar-benar rindu akan kebodohan mereka semua. Aku rindu ketika kita saling cemooh soal rusaknya dunia. Saling hujat soal taruhan yang ngeblong karena kita kompak kalah taruhan dalam salah satu judi balap keong. Dimana mereka sekarang? Sukses'kah mereka sekarang? Harapanku hanya satu mereka tak lupa akan kebersamaan kita dulu.
Tepat di depan ruangan BK sebelah timur kelasku dulu, aku duduk termenung sambil bernostalgia dengan mengingat-ingat bagaimana cerianya aku dulu. Catatan rapot merah, hukuman hormat bendera siang hari, hingga skorsing karena tawuran dengan SD sebelah masih terekam rapi diingatanku.
Ohh Darsih... Andai dulu kamu tak menolakku karena ingin fokus masuk SMP favorit. Mungkin aku tak semenderita kini. Lima belas tahun silam semenjak kamu menolakku didepan pedagang pentol bakar kala itu menjadikanku semangat lagi untuk menghadapi tantangan hidup.
Siang itu sembari menunggu Pak Waluyo selesai mengajar, badanku coba kurebah sedikit lebih santai pada tempat duduk di ruang tunggu tepat di depan ruang BK. Begitu kagetnya aku ketika ada seorang perempuan yang menepuk pundakku dari samping.

"Mas Timbul? Mas ngapain disini?". Dengan sedikit heran perempuan itu bertanya padaku.

Duh gusti.. Perempuan itu ternyata benar-benar seperti apa yang ada dibenakku, sama persis tak berubah. Yaa dia adalah Darsih. Perempuan yang sedari sekolah dasar kukagumi. Jantungku mulai berdetak kencang, keringat bercucuran deras, grogi, malu campur aduk menjadi satu. Tak pernah aku merasa semalu dan segemetar ini dalam hidupku. Yaa baru kali ini.

"Mas... Mas Timbul.."

Mendengar suaranya pun aku sudah merasa lega. Aku menikmati dan menghayati suaramu Dik Darsih.

"Mas.. Mas Timbul..."
"Mas Timbul.."
"Timbul.. Mbul.."

Suara itu lambat laun makin mengeras. Duh gusti.. aku benar-benar rindu suaramu Dik.

"Timbul... tangi Mbul..!!"
"Darsah-darsih.. neng kene ora ono jenenge Darsih..!"
"Tangi mbul wes awan, penggaweanmu tura-turu tok...!! Ayoo tangii...! Gek ndang golek kerjo kono!!"

Bajilakk...! ternyata dik Darsih hanya sebatas mimpi. Suara melengking panjang itu ternyata suara ibuku.

***

Senin, 24 Juni 2019

Sistem zonasi : Antara Prestise dan Favoritisme



Pagi ini tempat kerja terasa lebih semarak dengan berjejernya beberapa jajan pasar di depan meja. Bukan karena pak bos sedang bagi-bagi bonus, namun kudengar tante Beti syukuran karena anak semata wayangnya diterima di SD Negeri Bulakbanteng. Tante Beti eh kok tante, mbak saja biar lebih membumi. Ya mbak Beti adalah salah satu rekan kerja yang kebetulan pagi ini memberikan jajanan pasar ke beberapa orang di kantor dengan tujuan syukuran karena anaknya diterima dengan sistem zonasi yang beberapa minggu ini bikin geger jagat peremak-emak'an.

Permendikbud nomor 51 tahun 2018 pasal 3 menyebutkan bahwa kepala daerah membuat kebijakan pelaksanaan PPDB dan menetapkan zonasi sesuai dengan kewenangannya. Perlu diketahui sistem zonasi ini termasuk sistem baru yang diregulasikan oleh pemerintah dengan berbagai pertimbangan dan alasan. Pada sistem zonasi yang diberlakukan pemerintah kali ini diharapkan mampu memberi corak baru pada pendidikan di Indonesia dengan menggeser mindset atau pola pikir adanya sekolah-sekolah yang dilabeli favorit oleh masyarakat. Tentunya bukan tanpa alasan masyarakat memberikan stempel sekolah favorit, alasan paling umum yang sering disampaikan oleh masyarakat adalah "sekolahin di SD bulakbanteng aja buk karena disitu sekolahnya anak pinter-pinter" atau "banyak anak sukses jebolan sekolah itu pak/buk, fasilitasnya juga lengkap kok" dll. Masyarakat seringkali berpikir jika anaknya dapat disekolahkan di sekolah favorit maka besar kemungkinan akan sukses seperti orang-orang yang dulunya sekolah disitu. Namun apakah memang menjamin jika kita sekolah di sekolahan di label favorit maka kedepanya akan sukses?. Entah ini jadi ajang prestise bagi kebanyakan orang tua calon murid atau bagaimana saya juga belum menemukan jluntrungannya. Korelasi antara kesuksesan dengan sekolah favorit masih jadi topik yang debatable di kalangan masyarakat kita. Maka tak salah timbul opini baru saat orangtua yang anaknya diterima di SD,SMP,SMA negeri tapi tak berlabel favorit. "Sudah ndakpapa yang penting kan Negeri daripada masuk swasta?". Muncul adanya statement yang sengaja ditabrakkan antara  Negeri dan Swasta, Favorit dan Biasa dan lain sebagainya. Seperti mbak Beti ceritakan kalau ada anak saudaranya yang malah minder kalau masuk sekolah negeri dekat rumahnya, alasannya memang sekolah negeri didekat rumah bukan favorit dan banyak anak kampung yang nakal-nakal sekolah disitu.
Sekolah negeri adalah impian para orang tua murid. Mereka berpikir ketika anak-anak mereka masuk dalam sekolah negeri maka uang yang akan keluar tidaklah sebanyak atau semahal sekolah swasta pada umumnya. Banyak emak-emak yang sambat karena mahalnya daftar ulang atau uang gedung yang harus dibayar ketika anak mereka masuk ke sekolah swasta belum lagi spp perbulannya. Alih-alih memburu dan menjadikan sekolah negeri sebagai sarana pendidikan anak mereka, ternyata kita dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya bahwa lagi-lagi alasan terkuat adalah karena pengaruh ekonomi. Lengkapnya fasilititas dan tingginya jebolan sekolah negeri yang sukses agaknya hanya sebagai penguat argumen agar anak mereka dapat masuk ke sekolah negeri dan khawatir dengan sekolah swasta yang membuat bengkaknya pengeluaran keluarga seperti yang terjadi pada masyarakat kalangan menengah.

Pada dasarnya semua sekolah dimanapun adalah baik bagi anak, karena di semua sekolah juga bertujuan untuk mengajari siswa-siswi'nya dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak paham menjadi paham. Tak ada satu sekolahpun yang bertujuan untuk menjerumuskan anak didiknya. Yang kedua. jika pemerintah tetap ingin melanjutkan dan mempertahankan sistem zonasi maka pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan juga harus tetap memberikan pemahaman secara terstruktur kepada masyarakat luas agar berjalannya sistem zonasi ini tidak menjasi dilema di kalangan masyarakat dan tentunya tak hanya pemerintah, para orang tua seyogyanya memberikan arahan dan pengertian kepada anak-anaknya untuk tidak lagi berambisi bahwa sekolah harus favorit dan negeri. Masih banyak alternatif-alternatif lain jika kurang beruntung tidak diterima di sekolah negeri dan tak menginginkan sekolah di swasta maka masih ada pondok pesantren yang juga masih banyak menelurkan orang-orang sukses diluar sana.