Dari kamar terdengar ada sedikit orasi pada pengeras suara. Suaranya tak asing bahkan aku sering mendengar suara itu pada saat arisan bapak-bapak. Aku yakin suara itu adalah suara Pak RT. Suara melengking keras dengan nada ajakan kepada warga agar segera berkumpul karena jalan sehat pagi hari ini akan segera dimulai.
Tak kuhiraukan suara itu karena suara bantal dan gulingku menggema lebih keras daripada suara Pak RT. Gaya gravitasi seakan menarikku lebih keras dalam dekapan sprei kasur yang sudah agak sedikit mbulak. Mata merem mungkin sudah menjadi hobbyku sejak tak lagi bekerja sebagai buruh di perusahaan borjuis kapitalis sebelah timur desa. Aku memilih menjadi bangsawan (bangsane tangi awan) untuk menjadi jalan ninjaku.
Tetiba gemuruh suara memekik tajam dari luar pintu kamar serta gedoran pintu yang tak lagi bisa terhindari pun terjadi. Kupikir pagi ini ada gempa berkekuatan lebih kurang tujuh skala richter.
"Tangi...! Wes awan...!" Sambil menggedor pintu kamar.
Ohh tuhan ternyata itu suara ibuk.
"Mbangkong kok terus..! Ndang adus. Terus melu jalan sehat. Pak RT wes obrak-obrak liwat speaker mushola!" Sahut ibuk.
Mataku tiba-tiba memberat, mulutku menutup tak mau mengucap apapun. Batinku berkata kutukan apalagi pagi ini tuhan.
"Hmmm...hmmmmm.." sahutku.
"Ham..hem..ham..hem.. Malam kerjanya begadang, ngopa-ngopi, Shubuh kesiangan. Punya anak kok ndak bisa diandalkan sama sekali" tandas ibuk.
"He'emm...." sahutku kembali enteng.
"Kamu ini hambok yaa ngehargai sedikit gitu lho perjuangan pahlawan dulu. Jaman sudah merdeka, kamu disuruh menyemarakkan hari kemerdekaan saja ndak mau. Mau jadi apa kamu? Mbangkong kok terus. Kamu ini ndak punya rasa Nasionalisme blas..!" Timpal ibuk kembali.
"Buk.. Aku ini pengen merdeka buk.. Masak ndak boleh aku memerdekakan diriku sendiri? Jangan dijajah terus dong." Sahutku santuy.
"Ohh... ini hasilnya kamu kuliah? Bukannya pinter ini malah ngejawab mulu. Kamu tau Aceh, Maluku, Papua dulu dan sampai sekarang ya pengen merdeka. Sudah dikasih tau kalau kita itu Indonesia ehh mereka malah ngelawan yaa seperti kamu sekarang ini..!" Jawab ibuk geram.
"Tapi buk.. Aceh, Maluku, Papua dan aku juga berhak merdeka kan? Tanpa harus merasa dijajah melulu?" Jawabku mulai agak melek.
"Ohh... jadi kamu merasa Aceh, Maluku, Papua itu dijajah oleh Indonesia sendiri yaa? Ohh kamu merasa dijajah ibuk? Ibuk dari awal sudah menduga kamu ini terpapar gerakan PKI pasti..!" Tanya ibuk dengan suara memekik.
"Astaghfirullahh buk.. istighfar buk.." jawabku kaget.
"Ohh.. atau kamu terpapar HTI yang pengenya Khilafah ndak pengen Pancasila? Atau ibuk tau kamu jangan-jangan sudah kena dampak ISIS?. Astaghfirullah Pak.. anakmu sekarang jadi PKI yang ngikut HTI dan ikut-ikutan ISIS..!!" Ibuk mulai geram melihatku tak beranjak dari kasur.
"Buk...." jawabku singkat.
"Ndak usah bak buk bak buk lagi. Ibuk sudah curiga semenjak kamu ngikut organisasi di kampus yang ndak jelas itu kamu sukanya sekarang melawan ibuk saja. Ibuk tau buku 'Palu Arit diladang tebu' & 'Nasionalisme Ganda Orang Papua' yang kamu sembunyikan di balik kasur itu. Halah ngaku saja. Sekarang kalau ndak mau jadi anak durhaka dan punya Nasionalisme tinggi untuk Indonesia, cepat mandi dan ikut jalan sehat di balai desa sekarang juga..!" Tandas ibuk garang.
Argumen dan narasi ibuk tentang Nasionalisme akhirnya membawaku lepas landas dari kasur kamar. Entah sumber darimana sehingga ibuk dapat mengetahui sejarah Aceh, Maluku dan Papua. Mungkin itu versi ibuk yang ndak mau Indonesia dipecah belah. Ibuk hanya ingin Indonesia yaa Indonesia. Kita ini bangsa yang pernah dijajah bukan bangsa penjajah.
Menurut ibuk sejarah kelam dulu sudah jadi pil pahit bagi bangsa Indonesia. Sudah selayaknya ibuk sebagai benteng pertahanan terakhir dirumah untuk menjaga marwah Nasionalisme tertinggi.
Ibuk pagi ini menjelma menjadi aparatur negara dan sialnya lagi aku masih tetap tak merdeka dari apapun dan siapapun termasuk ibuk. Huft..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar