Senin, 29 Juli 2019

Dik Darsih, Riwayatmu kini

Terik matahari menyengat di jam menjelang siang. Hanya aula yang terlihat tak di temani oleh sinar panas itu. Serta rerumunan siswa-siswi yang bergerak kesana kemari membawa tas ransel berisi buku-buku pinjaman sekolah yang kisaran beratnya tak lebih dari dua kilogram.
Bagiku momen-momen semacam itu pernah kulewati hampir lima belas tahun silam. Memori kekonyolan dengan kawan sejawat yang baru kukenal, rasa canggung melontarkan kata pertama sebagai tanda jadi perkenalan pun tak terucap.
Terlihat dari kejauhan perempuan bertubuh mungil dengan jilbab model syar'i kekinian lengkap dengan seragam khas seorang pengajar. Ia berada di depan aula dengan menyampirkan pengeras suara di samping bahu kirinya.
Bagai kamera dengan lensa bokeh auto fokus'ku terbelalak menuju depan aula. Perempuan itu tampak tak asing. Sorot matanya pernah kulihat sebelumnya. Lentik jari saat mengarahkan siswa-siswi berbaris pun seakan aku pernah merekamnya. Suara melengking fals dengan intonasi yang seperti itu juga familiar  di gendang telingaku.
Aku berusaha untuk tidak membenarkan apa yang ada di dalam benakku. Bukan dia yaa bukan. Arus pembenaran seakan memacuku untuk terus melaju dan mengiyakan bahwa perempuan berwajah bulat lengkap dengan pipi yang sedikit lebih gemuk atau chubby adalah Darsih. Perempuan cerdas yang sewaktu sekolah dapat mudah melafal rumus diluar kepala serta goresan tanganya yang lihai saat menyeselaikan puluhan soal fisika dan tentunya pelajaran yang paling dibenci oleh seantero Sekolah dasar (baca:matematika).
Asih adalah panggilannya, alasan klasiknya sih karena tak ingin terlihat kampung dan kuno. Pribadi yang cerewet serta humble atau mudah adaptasi dengan lingkungan sekitar membuatnya seringkali mudah dalam bergaul maupun mencari teman. Gaya berbicara ceriwis ala presenter gosip jadi khasnya ketika masih di bangku sekolah. Tak hanya itu ia juga aktif dalam kegiatan sekolah.
Bajigurr...! Bisa-bisanya aku termenung beberapa menit karena melihatnya dan mengira ia seperti Darsih. Tujuanku kembali ke sekolah ini tak lain dan tak bukan untuk menemui Pak Waluyo. Guru yang nyentrik pada jamanku sekolah karena Pak Waluyo'lah satu-satunya guru yang senang akan travelling, fotografi, begadang lovers dan touring addict . Sosok sedikit kekar dengan brengos tipis ala-ala koboi jadi khas Pak Waluyo. Rambut setengah gundul dan mengkilat menjadikannya salah satu guru yang dicap mirip seperti komedian Indro DKI. 
Urusanku dengan Pak Waluyo kali ini ingin mengajaknya untuk ngopi bareng kawan-kawan alumni SD Bulakbanteng yang kebetulan akan membicarakan soal reuni akbar lintas angkatan. Rasanya sudah lama sekali aku tak melihat tampang-tampang berandal kawan-kawan sejawatku dulu. Kira-kira bagaimana keaadannya kini aku benar-benar rindu akan kebodohan mereka semua. Aku rindu ketika kita saling cemooh soal rusaknya dunia. Saling hujat soal taruhan yang ngeblong karena kita kompak kalah taruhan dalam salah satu judi balap keong. Dimana mereka sekarang? Sukses'kah mereka sekarang? Harapanku hanya satu mereka tak lupa akan kebersamaan kita dulu.
Tepat di depan ruangan BK sebelah timur kelasku dulu, aku duduk termenung sambil bernostalgia dengan mengingat-ingat bagaimana cerianya aku dulu. Catatan rapot merah, hukuman hormat bendera siang hari, hingga skorsing karena tawuran dengan SD sebelah masih terekam rapi diingatanku.
Ohh Darsih... Andai dulu kamu tak menolakku karena ingin fokus masuk SMP favorit. Mungkin aku tak semenderita kini. Lima belas tahun silam semenjak kamu menolakku didepan pedagang pentol bakar kala itu menjadikanku semangat lagi untuk menghadapi tantangan hidup.
Siang itu sembari menunggu Pak Waluyo selesai mengajar, badanku coba kurebah sedikit lebih santai pada tempat duduk di ruang tunggu tepat di depan ruang BK. Begitu kagetnya aku ketika ada seorang perempuan yang menepuk pundakku dari samping.

"Mas Timbul? Mas ngapain disini?". Dengan sedikit heran perempuan itu bertanya padaku.

Duh gusti.. Perempuan itu ternyata benar-benar seperti apa yang ada dibenakku, sama persis tak berubah. Yaa dia adalah Darsih. Perempuan yang sedari sekolah dasar kukagumi. Jantungku mulai berdetak kencang, keringat bercucuran deras, grogi, malu campur aduk menjadi satu. Tak pernah aku merasa semalu dan segemetar ini dalam hidupku. Yaa baru kali ini.

"Mas... Mas Timbul.."

Mendengar suaranya pun aku sudah merasa lega. Aku menikmati dan menghayati suaramu Dik Darsih.

"Mas.. Mas Timbul..."
"Mas Timbul.."
"Timbul.. Mbul.."

Suara itu lambat laun makin mengeras. Duh gusti.. aku benar-benar rindu suaramu Dik.

"Timbul... tangi Mbul..!!"
"Darsah-darsih.. neng kene ora ono jenenge Darsih..!"
"Tangi mbul wes awan, penggaweanmu tura-turu tok...!! Ayoo tangii...! Gek ndang golek kerjo kono!!"

Bajilakk...! ternyata dik Darsih hanya sebatas mimpi. Suara melengking panjang itu ternyata suara ibuku.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar