Pagi
ini tempat kerja terasa lebih semarak dengan berjejernya beberapa jajan pasar
di depan meja. Bukan karena pak bos sedang bagi-bagi bonus, namun kudengar tante
Beti syukuran karena anak semata wayangnya diterima di SD Negeri Bulakbanteng.
Tante Beti eh kok tante, mbak saja biar lebih membumi. Ya mbak Beti adalah
salah satu rekan kerja yang kebetulan pagi ini memberikan jajanan pasar ke
beberapa orang di kantor dengan tujuan syukuran karena anaknya diterima dengan
sistem zonasi yang beberapa minggu ini bikin geger jagat peremak-emak'an.
Permendikbud
nomor 51 tahun 2018 pasal 3 menyebutkan bahwa kepala daerah membuat kebijakan
pelaksanaan PPDB dan menetapkan zonasi sesuai dengan kewenangannya. Perlu
diketahui sistem zonasi ini termasuk sistem baru yang diregulasikan oleh
pemerintah dengan berbagai pertimbangan dan alasan. Pada sistem zonasi yang
diberlakukan pemerintah kali ini diharapkan mampu memberi corak baru pada
pendidikan di Indonesia dengan menggeser mindset atau pola pikir adanya sekolah-sekolah
yang dilabeli favorit oleh masyarakat. Tentunya bukan tanpa alasan masyarakat
memberikan stempel sekolah favorit, alasan paling umum yang sering disampaikan
oleh masyarakat adalah "sekolahin di SD bulakbanteng aja buk karena disitu
sekolahnya anak pinter-pinter" atau "banyak anak sukses jebolan
sekolah itu pak/buk, fasilitasnya juga lengkap kok" dll. Masyarakat seringkali
berpikir jika anaknya dapat disekolahkan di sekolah favorit maka besar
kemungkinan akan sukses seperti orang-orang yang dulunya sekolah disitu. Namun apakah
memang menjamin jika kita sekolah di sekolahan di label favorit maka kedepanya
akan sukses?. Entah ini jadi ajang prestise bagi kebanyakan orang tua calon
murid atau bagaimana saya juga belum menemukan jluntrungannya. Korelasi antara
kesuksesan dengan sekolah favorit masih jadi topik yang debatable di kalangan masyarakat
kita. Maka tak salah timbul opini baru saat orangtua yang anaknya diterima di SD,SMP,SMA
negeri tapi tak berlabel favorit. "Sudah ndakpapa yang penting kan Negeri
daripada masuk swasta?". Muncul adanya statement yang sengaja ditabrakkan
antara Negeri dan Swasta, Favorit dan
Biasa dan lain sebagainya. Seperti mbak Beti ceritakan kalau ada anak saudaranya
yang malah minder kalau masuk sekolah negeri dekat rumahnya, alasannya memang sekolah
negeri didekat rumah bukan favorit dan banyak anak kampung yang nakal-nakal sekolah
disitu.
Sekolah
negeri adalah impian para orang tua murid. Mereka berpikir ketika anak-anak
mereka masuk dalam sekolah negeri maka uang yang akan keluar tidaklah sebanyak
atau semahal sekolah swasta pada umumnya. Banyak emak-emak yang sambat karena
mahalnya daftar ulang atau uang gedung yang harus dibayar ketika anak mereka
masuk ke sekolah swasta belum lagi spp perbulannya. Alih-alih memburu dan
menjadikan sekolah negeri sebagai sarana pendidikan anak mereka, ternyata kita
dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya bahwa lagi-lagi alasan terkuat adalah
karena pengaruh ekonomi. Lengkapnya fasilititas dan tingginya jebolan sekolah
negeri yang sukses agaknya hanya sebagai penguat argumen agar anak mereka dapat
masuk ke sekolah negeri dan khawatir dengan sekolah swasta yang membuat
bengkaknya pengeluaran keluarga seperti yang terjadi pada masyarakat kalangan
menengah.