Senin, 24 Juni 2019

Sistem zonasi : Antara Prestise dan Favoritisme



Pagi ini tempat kerja terasa lebih semarak dengan berjejernya beberapa jajan pasar di depan meja. Bukan karena pak bos sedang bagi-bagi bonus, namun kudengar tante Beti syukuran karena anak semata wayangnya diterima di SD Negeri Bulakbanteng. Tante Beti eh kok tante, mbak saja biar lebih membumi. Ya mbak Beti adalah salah satu rekan kerja yang kebetulan pagi ini memberikan jajanan pasar ke beberapa orang di kantor dengan tujuan syukuran karena anaknya diterima dengan sistem zonasi yang beberapa minggu ini bikin geger jagat peremak-emak'an.

Permendikbud nomor 51 tahun 2018 pasal 3 menyebutkan bahwa kepala daerah membuat kebijakan pelaksanaan PPDB dan menetapkan zonasi sesuai dengan kewenangannya. Perlu diketahui sistem zonasi ini termasuk sistem baru yang diregulasikan oleh pemerintah dengan berbagai pertimbangan dan alasan. Pada sistem zonasi yang diberlakukan pemerintah kali ini diharapkan mampu memberi corak baru pada pendidikan di Indonesia dengan menggeser mindset atau pola pikir adanya sekolah-sekolah yang dilabeli favorit oleh masyarakat. Tentunya bukan tanpa alasan masyarakat memberikan stempel sekolah favorit, alasan paling umum yang sering disampaikan oleh masyarakat adalah "sekolahin di SD bulakbanteng aja buk karena disitu sekolahnya anak pinter-pinter" atau "banyak anak sukses jebolan sekolah itu pak/buk, fasilitasnya juga lengkap kok" dll. Masyarakat seringkali berpikir jika anaknya dapat disekolahkan di sekolah favorit maka besar kemungkinan akan sukses seperti orang-orang yang dulunya sekolah disitu. Namun apakah memang menjamin jika kita sekolah di sekolahan di label favorit maka kedepanya akan sukses?. Entah ini jadi ajang prestise bagi kebanyakan orang tua calon murid atau bagaimana saya juga belum menemukan jluntrungannya. Korelasi antara kesuksesan dengan sekolah favorit masih jadi topik yang debatable di kalangan masyarakat kita. Maka tak salah timbul opini baru saat orangtua yang anaknya diterima di SD,SMP,SMA negeri tapi tak berlabel favorit. "Sudah ndakpapa yang penting kan Negeri daripada masuk swasta?". Muncul adanya statement yang sengaja ditabrakkan antara  Negeri dan Swasta, Favorit dan Biasa dan lain sebagainya. Seperti mbak Beti ceritakan kalau ada anak saudaranya yang malah minder kalau masuk sekolah negeri dekat rumahnya, alasannya memang sekolah negeri didekat rumah bukan favorit dan banyak anak kampung yang nakal-nakal sekolah disitu.
Sekolah negeri adalah impian para orang tua murid. Mereka berpikir ketika anak-anak mereka masuk dalam sekolah negeri maka uang yang akan keluar tidaklah sebanyak atau semahal sekolah swasta pada umumnya. Banyak emak-emak yang sambat karena mahalnya daftar ulang atau uang gedung yang harus dibayar ketika anak mereka masuk ke sekolah swasta belum lagi spp perbulannya. Alih-alih memburu dan menjadikan sekolah negeri sebagai sarana pendidikan anak mereka, ternyata kita dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya bahwa lagi-lagi alasan terkuat adalah karena pengaruh ekonomi. Lengkapnya fasilititas dan tingginya jebolan sekolah negeri yang sukses agaknya hanya sebagai penguat argumen agar anak mereka dapat masuk ke sekolah negeri dan khawatir dengan sekolah swasta yang membuat bengkaknya pengeluaran keluarga seperti yang terjadi pada masyarakat kalangan menengah.

Pada dasarnya semua sekolah dimanapun adalah baik bagi anak, karena di semua sekolah juga bertujuan untuk mengajari siswa-siswi'nya dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak paham menjadi paham. Tak ada satu sekolahpun yang bertujuan untuk menjerumuskan anak didiknya. Yang kedua. jika pemerintah tetap ingin melanjutkan dan mempertahankan sistem zonasi maka pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan juga harus tetap memberikan pemahaman secara terstruktur kepada masyarakat luas agar berjalannya sistem zonasi ini tidak menjasi dilema di kalangan masyarakat dan tentunya tak hanya pemerintah, para orang tua seyogyanya memberikan arahan dan pengertian kepada anak-anaknya untuk tidak lagi berambisi bahwa sekolah harus favorit dan negeri. Masih banyak alternatif-alternatif lain jika kurang beruntung tidak diterima di sekolah negeri dan tak menginginkan sekolah di swasta maka masih ada pondok pesantren yang juga masih banyak menelurkan orang-orang sukses diluar sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar